
Jika kita mengingat tayangan di televisi tentang antrian panjang kaum fakir miskin untuk mendapatkan uang zakat dari seorang pejabat. Atau membaca di koran tentang ribuan orang di sebuah daerah untuk berebut sedekah yang notabane nya hanya sepuluh ribu rupiah saja, dan untuk senilai itu mereka rela berpanas-panasan, saling sikut, saling injak dan akhirnya jatuh pingsan. Semua tayangan itu sepertinya hanya menggambarkan parade kemiskinan negeri ini yang takkan pernah selesai dituntaskan hanya dengan sepuluh atau lima puluh ribu rupiah, namun bagaimana jika antrian seperti itu juga terjadi pada mereka tenaga pendidik kita yang notabane nya hanya berstatus honorer, padahal dari merekalah kita bisa mengenal huruf, angka bahkan membaca postingan ini?
Kemarin…tepat satu hari sebelum Lebaran, aku melintasi jalan Ahmad Yani, aku melihat satu pemandangan yang sungguh tidak mengenakkan, paling tidak buatku…pemandangan yang seharusnya tak lazim untuk di ceritakan, apalagi di publikasikanlewat dunia maya ini, tapi di lain hal aku berharap postingan kali ini bisa menggugah para elite politik untuk memperjuangkan nasib para pendidik negeri ini, meskipun mereka hanya berstatus honorer,aku masih ingat, bagaimana ekspresi wajah wajah ceria mereka ketika uang itu sudah mereka terima, aku seperti tersadar betapa negeri ini seharusnya memberi penghargaan lebih kepada tenaga pendidik, karena negeri ini bisa jaya, negeri ini bisa bangkit jika semua lingkup masyarakatnya memuliakan para guru,,,bukan seperti kemarin yang kulihat, mereka rela melakukan antrian panjang hanya untuk 100 ribu rupiah, karena yang kudapat informasi dari mereka bahwa pemerintah kota tutup mata dengan nasib mereka, padahal kita tahu gaji mereka cuma 300 ribu/bulan…kalau kita coba hitung-hitung apa mereka cukup memenuhi kebutuhan hidup dengan perekonomian negeri kita yang makin hari makin meningkat, belum lagi saat lebaran kebutuhan sembako makin menampakkan wujud aslinya…aku prihatin, semoga para DPR/MPR rela meluangkan waktu sejenak untuk memikirkan nasib mereka para guru yang akan melahirkan putra-putri Indonesia yang bukan saja penerus estafet bangsa ini tapi juga yang akan menjadikan Indonesia mulia di mata dunia.
Minal Aidin Wal Faidzin,,,semoga di tahun ini Allah berkenan mengangkat derajat anda semua menjadi PNS..amien




aku bisa merasakan kok. seharusnyalah Pemda bertindak cepat dalam permasalahan ini. sehinga yang menjadi keluhan para guru honorer bisa di tanggulangi. semoga.
Komentar oleh kawanlama95 — September 22, 2009 @ 5:39 am |
sepakat… saya sebagai guru dan orang yang diberi tugas membayar gaji beberapa guru honorer merasakan hal yang sama.
Komentar oleh arifin — September 22, 2009 @ 5:51 am |
Semoga Allah berkenan mengangkat derajat para guru honor untuk menjadi PNS..Amien
Komentar oleh Rizal Islami — September 22, 2009 @ 6:22 am |
Assalamu’alaikum wr.wb.
Memenag pemerintah kita kurang memperhatikan pendidikan, karena itu kita tertinggal jauh oleh Malaysia. Dulu tahun 70-an Malaysia mendatangkan guru-guru terbaik dari SMA, pada waktu itu mereka di bawah kita.Kini sebaliknya, kita tertinggal.
Brangkali mereka sekarang yang di bawah kita cuma ilmu kedoteran , sehingga mahasiswa Malaysia banyak yang kuliah kedokteran di sini.
Untuk ilmu agama juga demikian . Tahun 70-an hampir semua IAIN dimasuki mereka untuk menimba ilmu, tapi sekarang untuk mengambil S-2 Agama Islam, kita yang datang ke sana.
Teruskan bakti Saudara, semoga Allah membalas apa yang Saudara perjuangkan selama ini.
Wassalamu’alaikum
Komentar oleh ABDUL AZIZ — September 22, 2009 @ 7:23 am |
seharusnya pemerintah kita lgih memperhatikan kawan-kawan honorer kita. apalagi mereka sudah banyak berjasa untuk bangsa
Komentar oleh unique world — September 22, 2009 @ 9:54 am |
Assalamu’alaikum,
Saya turut prihatin dengan apa yang dialami para guru honorer, semoga pemerintah bisa lebih memperhatikan hal ini dan semoga kesejahteraan bisa segera diraih, amin. (Dewi Yana)
Komentar oleh jalandakwahbersama — September 22, 2009 @ 10:18 am |
Nasib para pahlawan pendidikan ini terutama mereka yang masih berstatus honorer tak perlulah seharusnya di politisir seperti ini, tak perlu mereka harus jejal antri hanya utk hal yg spt yg ditulis diatas, tapi apa mau dikata sy menarik benang merah dalam menyikapi ini dan jika saja para penguasa berpikir ini adalah tamparan keras dan telak pada wajah-wajah perlente mereka, hanya utk sekedar bahagia menyambut Idul Firti, spt ini kah selama ini perhatian para penguasa pada guru dengan status honorer sampai-sampai seorang donatur yg dermawan terpikir ingin membahagiakan mereka dimana seharusnya ini tugas para penguasa yang ketika ingin menduduki tahta sempat memberikan secercah asa yg ternyata fatamorgana belaka, sungguh riskan sekali kebijakkan yg penguasa buat guru dengan status PNS dapat tersenyum lega merasakan THR dadakan yg dianggarkan dengan nomonal cukum 2 bulan gaji guru honorer sedangan guru honorer…..senyum sajalah…..
Komentar oleh santia wati — September 22, 2009 @ 10:24 am |
LHo, bukannya sekarang gaji guru sudah membaik mas. Ada program sertifikasi segala.
Guru memang sudah seharusnya mendapat posisi dan gaji yang bagus mengingat dari merekalah manusia Indonesia akan mendapatkan ilmu yang bermanfaat.
Bapakku guru, mertuaku guru (gumil), isteriku pernah jadi guru(honorer) dan saya juga pernah jadi guru(militer=gumil).
Semoga para guru tetap sabar dengan upaya pemerintah ini, utamanya para guru honorer. Insya Allah kesabaran itu akan membuahkan hasil. Tetap semangat pak/bu Guru. Jasamu tiada tara karena engkau bak pelita,penerangan dalam gulita.
Sungguh saya menaruh hormat dan memberikan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada para Guru diseluruh Nusantara.
Salam hormat dan sehangat-hangatnya dari Surabaya.
Komentar oleh Pakde Cholik — September 24, 2009 @ 1:03 am |
pengalamanku, berberapa guru2 honorer itu malah lebih semangat mendidik siswa’iannya drpada yg sudah pegawai, mugkin jug karena hidup terus merupakan perjuangan tanpa kepastian seperti mereka
Komentar oleh kupuungu — September 27, 2009 @ 7:38 am |
Saya mengenal seorang guru honorer di sebuah kampung terpencil…Pahlawan Tanpa Tanda Jasa, berbakti tanpa kenal lelah..Namun kemana para pemimpin Negeri ini ? kenapa mereka sang Pahlawan tidak mendapatkan tempat yang layak dalam Pembangunan negeri ini…?
Komentar oleh atmakusumah — Oktober 31, 2009 @ 3:54 pm |
buat apa mengambil cpns yang belum perpengalaman.Lebih bagus mengangkat cpns honorer sekolah negeri yang sudah jelas mutu dan pengalamannya.
Komentar oleh TONI TEBRIANDI — Desember 11, 2009 @ 10:07 am |
Guru Honorer Dijanjikan Jadi PNS
Wednesday, 29 July 2009
Syaratnya Mengajar di Sekolah Negeri, Action-nya Tunggu PP
JAKARTA – Guru honorer di sekolah negeri berpeluang menjadi calon pegawai negeri sipil (CPNS). Hanya saja untuk menjadi CPNS harus ada peraturan pemerintah (PP) yang baru.
“Dalam Rakornas 14 Juli lalu, kan sudah ditetapkan pengangkatan honorer menjadi PNS tuntas tahun ini. Namun, bukan berarti honorer yang masih tersisa (tidak masuk data base 2005) tidak bisa diangkat jadi PNS. Akan tetap diangkat tapi harus ada payung hukumnya dulu berupa PP,” kata Deputi Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara (Menpan) bidang Sumber Daya Manusia (SDM) Ramli Naibaho yang dihubungi, Selasa (28/7).
Kapan PP tersebut dikeluarkan? “Ya, kita tunggu saja. Kan ini sementara disusun PP-nya,” ucapnya. Sementara itu Ketua Umum Forum Tenaga Honorer Sekolah Negeri Indonesia (FTHSNI) Ani Agustina mengatakan, mulai 2010 seluruh guru dan tenaga kependidikan yang diangkat dan gajinya dibayar sekolah, akan didata ulang sebagai persiapan pengangkatan.
Saat ini jumlah guru honorer di sekolah negeri adalah sekitar 250.000 orang.“Hingga kini belum ada kepastian waktu guru honorer sekolah diangkat sebagai CPNS dan PNS. Padahal guru honorer sekolah tidak sembarangan diangkat sekolah, mereka itu diseleksi dan sekolah melaporkannya ke dinas pendidikan setempat. Adanya guru honorer itu karena terjadi kekurangan guru di sejumlah sekolah,” ujarnya.
Yang terjadi saat ini di beberapa tempat, justru jam mengajar guru honorer dikurangi agar guru tetap berstatus PNS bisa mengajar 24 jam per minggu. Mengajar 24 jam per minggu ini penting sebagai syarat mendapatkan sertifikasi
Komentar oleh JOKO — Desember 11, 2009 @ 10:18 am |
Assalamualaikum……..
salam sejahtera untuk kita semua terutama untuk saudaraku sang Guru (pahlawan tanpa tanda jasa),saya turut prihatin bagaimana nasib guru kedepan,,,,
Komentar oleh Tulus widodo — Januari 4, 2010 @ 4:02 am |
Impian adalah harapan, dan kita tetap harus bermimpi mempunyai status PNS, tetap berjuang dan berdoa untuk impian kita itu,mudah-mudahan pemimpin negeri ini tergerak hatinya segera memperhatikan nasib kita-kita
Komentar oleh joko indarto — Januari 7, 2010 @ 10:44 am |
hidup guru honorer …
http://informasipagi.wordpress.com/2010/03/31/2011-pengangkatan-masal-guru-honorer/
Komentar oleh informasipagi — Maret 31, 2010 @ 3:53 am |
guru itu adalah pengabdian………
mengabdi untuk mencerdaskan generasi penerus bangsa..
guru honorer apalagi..
tapi….semua memang tidak bisa di ukur dengan uang..dan uang bukan segalanya…tapi kalo tidak ada uang kita tidak berdaya…
tidak bisa beli beras,bensin, kosemetik, jajan anak-anak…dan lain-lain…
guru honorer tugasnya sama dengan guru PNS…hanya gajinya yg ga sama
SO…KAPAN GURU HONORER DI ANGKAT JADI PNS…?????????
PEMERINTAH YG TERHORMAT..PERHATIKAN NASIB GURU HONORER..TERIMA KASIH.
Komentar oleh maya — Mei 12, 2010 @ 4:41 am |
Memang malang nasib guru honor, begitu susahnya untuk menutupi kebutuhan keluarganya. Apalagi ada ucapan dari Kepala Sekolah yang sudah PNS tentunya. Begini katanya “Guru Honor itu lir ibarat remeh dina bitis, digibrigkeun oge murag” (sunda red). Artinya Guru honor itu sama dengan sebutir nasi yang nempel pada bulu betis, digoyang sedikit juga jatuh.
Betapa pedih hati ini ketika terlontar ucapan seperti itu. Apakah mereka tidak merasa bahwa keberadaan kita ini patut diperhitungkan. jangan mentang-mentang sudah PNS bisa berbuat apa saja terhadap honorer. Apakah mereka sudah bisa untuk mengerjakan hal-hal tertentu yang mereka sendiri tidak bisa lakukan. Padahal mereka yang sudah PNS masih banyak yang tidak mengerti pendidikan masa kini (berbasi teknologi), mereka sebagian gaptek (gagap teknologi).
Buat sahabat-sahabatku sesama guru honorer, marilah kita sikapi ucapan tersebut sesuai dengan hati nurani sahabat2 semuanya.
Mohon tanggapan dan saran dalam menghadapi kepala sekolah seperti itu.
Untuk para pejabat : Sudah pantaskah seorang PNS berkata seperti itu? Tidakkah mereka sadar bahwa guru honor itu juga sama seorang manusia yang harus hidup dan menghidupi anak dan istrinya????????
Sungguh …………
Wassalam
terima kasih
Komentar oleh Amoenks — Juni 8, 2010 @ 5:24 am |
PGRI yang namanya terkenal,dekat dengan pemerintah dan wakil rakyat harusnya maaf….dekat dengan guru honorer,yang notabennya maaf di anak tirikan disekolah khususnya..coba tanya apa saja keluhanya…apa maunya,PGRI maaf jangan sok tahu,jembatani,fasilitasi…bukankah banyak guru honorer juga yang jadi anggota PGRI..satu hal lagi….hapus tes CPNS,ganti sistim pengankatan PNS berdasarkan raport,atau point…misalnya masa kerja poinnya berapa…usia poinnya berapa,UNIVERSITAS Negri pOINNYA BERAPA,KERAJINAN POINNYA BERAPA,….DAN PRESTASI POINNYA BERAPA…KAYAK SETIPIKASI…TAPI SERTIFIKASI BARU BERSIFAT TEORITIS,KARENA BANYAK YANG SERTIFIKASI NGAJARNYA TAMBAH MALAS.
Komentar oleh Darkam Ali s — Juni 30, 2010 @ 5:36 pm |
siapapun sebelum mengambil kebijakan harusnya melibatkan orang yg mengerti tentangnya.Khususnya masalah pendidikan minimal melibatkan PGRI dan FTHSNI atau organisasi kependidikan sehingga tepat sasaran dan bisa diterima di kalangan pendidikan.Kebijakan penggunaan dana oprasional bos 20% untuk tenaga honorer misalnya….. kebijakan itu mungkin hanya tepat yg perbandingan tenaga PNS dan honorer yg sedikit…..dantidak tepat yg sekolah yg tenaga honorernya banyak…….
Komentar oleh darkam ali s — Maret 8, 2011 @ 1:07 am |
RIZKI DITANGAN ALLAH SWT, TAPI LOGIKA TETAP DIPAKE!
GAJI NAIK BERKALA, TUNJANGAN2, THR, SERTIFIKASI, GAJI 13, DLL … ALHAMDULILLAH, GURU PNS!
GURU HONORER ??????? YA ALLAH… KUATKAN KAMI DARI KEDZOLIMAN INI.
BUKAKANLAH MATA, HATI & PIKIRAN MEREKA
Komentar oleh bukan ahooy — Maret 22, 2011 @ 3:06 pm |